Krisis iklim telah menjadi ancaman serius yang mengubah lanskap ekonomi global. Dalam beberapa tahun terakhir, dampak dari perubahan iklim dapat dilihat dalam berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga energi, yang berujung pada ketidakstabilan ekonomi.
Sektor pertanian merupakan salah satu yang paling rentan. Perubahan pola cuaca menyebabkan gagal panen, menaikkan harga pangan, dan meningkatkan kemiskinan di daerah yang bergantung pada pertanian. Menurut FAO, hingga 2025, 1,8 miliar orang dapat mengalami kekurangan air bersih akibat pengeringan dan perubahan iklim, yang berimplikasi langsung terhadap ketersediaan makanan dan pendapatan petani.
Dalam sektor energi, transisi dari sumber energi fosil ke energi terbarukan semakin mendesak. Investasi besar dalam energi terbarukan dibutuhkan untuk menjamin ketahanan energi di tengah fluktuasi harga minyak dan gas akibat perubahan iklim. Dampak ini dapat dilihat dari meningkatnya biaya energi yang naif namun semakin mengandalkan energi terbarukan, seperti yang terjadi di Eropa sejak transisi ke energi hijau.
Industri pariwisata juga terkena dampak signifikan dari krisis iklim. Perubahan iklim menciptakan kondisi cuaca ekstrem yang dapat menghalangi kedatangan wisatawan, serta merusak destinasi wisata. Wilayah pesisir menghadapi kenaikan permukaan laut, yang memperburuk risiko bencana alam, merugikan industri hotel dan perhotelan. Hal ini berpotensi mengurangi lapangan kerja dan pendapatan di wilayah-wilayah tersebut.
Selain itu, pemanasan global menyebabkan peningkatan frekuensi bencana alam. Menurut Bank Dunia, biaya ekonomi dari bencana yang disebabkan oleh iklim diperkirakan akan mencapai $54 triliun pada tahun 2030. Ini tidak hanya membebankan pemerintah yang harus melakukan rehabilitasi, tetapi juga meningkatkan risiko investasi di daerah rawan bencana, menciptakan ketidakpastian dalam pasar modal.
Krisis iklim juga berpengaruh terhadap nilai mata uang dan stabilitas keuangan. Negara-negara yang lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim mengalami melambatnya pertumbuhan ekonomi, yang dapat memicu pelarian modal dan depresiasi mata uang. Ketidakpastian ini mengganggu pasar keuangan secara keseluruhan, yang mengarah pada volatilitas yang lebih besar.
Perusahaan-perusahaan multinasional kini dihadapkan pada tuntutan dari investor dan konsumen untuk menerapkan praktik berkelanjutan. Peningkatan transparansi dalam kebijakan lingkungan menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan investasi. Perusahaan yang gagal beradaptasi dengan tuntutan ini berisiko kehilangan pangsa pasar, serta nilai saham, yang berdampak pada ekonomi secara keseluruhan.
Tindakan mitigasi, seperti pengurangan emisi karbon dan peningkatan efisiensi energi, semakin penting. Aktivitas ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya penting bagi keberlangsungan lingkungan, tetapi juga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan. Negara yang berinvestasi dalam teknologi hijau dapat memperoleh keuntungan kompetitif di pasar global.
Pemerintah di seluruh dunia mulai menyadari pentingnya kolaborasi internasional dalam menangani krisis ini. Kesepakatan Paris menunjukkan komitmen global untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Keterlibatan aktif dari semua negara, terutama yang paling terpengaruh, akan menjadi kunci untuk mencapai tujuan tersebut.
Krisis iklim memaksa kita untuk mempertimbangkan kembali model ekonomi yang ada. Pendekatan yang lebih holistik dalam merencanakan pembangunan ekonomi, mengintegrasikan keberlanjutan, sangat diperlukan. Tanpa tindakan radikal, risiko terhadap ekonomi global hanya akan semakin membesar. Sebagai kalangan ekonom, perubahan dalam kebijakan publik dan kerjasama lintas sektor menjadi vital untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.